Sosialisasi Warisan Budaya Lewat Film “Kereta Api Terakhir” Hasil Restorasi

Daftar Isi [Tampil]
kemendikbud Restorasi film kereta api terakhir
Rubrikpena.com
- Kereta Api Terakhir adalah sebuah film yang diproduksi pada tahun 1981 oleh Perusahaan Film Negara (PFN). 

Film yang diangkat dari sebuah novel karya Pandir Kelana ini bercerita tentang sebuah perjuangan revolusi pada tahun 1945-1947. Selain itu yang menarik dari film ini ialah menjadi salah satu film kolosal yang melibatkan 15 ribu pemain.

Perjalanan panjang film ini tentu menjadi bagian sejarah perfilman Indonesia. Maka karya ini kemudian perlu untuk dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu warisan yang memiliki nilai sejarah, budaya dan edukasi.

Dilansir dari Republika.co.id, pada akhir tahun 2019 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusbang Film telah melakukan restorasi film Kereta Api Terakhir. Proses panjang merestorasi sebuah karya ini bukan tanpa tujuan.

Hal ini dimaksudkan untuk menyelamatkan sebuah karya epik bernilai sejarah dan budaya tinggi. Sehingga kemudian bisa dijadikan sebagai media pembelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat secara luas.

Ditengah pandemi COVID-19 edukasi tentang perfilman bukan berarti harus terhenti. Dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, Kemendikbud melalui Direktorat Perfilman Musik dan Media Baru telah melaksanakan kegiatan sosialisasi berupa pemutaran dan diskusi film hasil restorasi “Kereta Api Terakhir” di Kampus ISI Padangpanjang, pada Kamis (13/8) lalu.

Direktur Perfilman Musik dan Media Baru, Mahendra mengatakan restorasi film ini bertujuan untuk melestarikan kekayaan warisan budaya bangsa. Karena film yang direstorasi memiliki unsur pendidikan tercermin dari kandungan nilai sejarah dan kearifan budaya Indonesia.

Film yang mengandung berbagai unsur seni seperti seni teater, seni musik, seni rupa dan seni media dapat menggambarkan semangat zaman dari perjalanan sejarah Indonesia, lanjutnya.

Melalui restorasi yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, film-film seluloid yang mengalami kerusakan, kembali dapat ditonton sebagai salah satu artefak sejarah berbentuk visual.


Pada kesempatan yang sama, Ketua tim Sosialisasi Pemutaran dan Diskusi Film Hasil Restorasi “Kereta Api Api Terakhir” Robert Mc Namara mengatakan, Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan dosen ISI Padangpanjang, bahwa begitu pentingnya langkah restorasi untuk menyelamatkan arsip film-film yang lama agar tidak hancur atau hilang termakan usia. 

Saat ini ini Kemendikbud telah melakukan digitalisasi  terhadap 60 film seluloid Indonesia yang dialih mediakan menjadi film digital melalui upaya restorasi.

Di antaranya ialah film Kereta Api Terakhir, Darah dan Doa (2013), Bintang Ketjil (2018) dan Pagar Berduri (2017). Sehingga kembali dapat disaksikan generasi milenial. 

Bahkan Rizka Fitri Akbar, Direktur PT. Render Digital Indonesia sebagai perusahaan yang melaksanakan restorasi film mengatakan, Tindakan restorasi merupakan satu langkah terakhir yang dilakukan guna penyelamatan sejarah bangsa melalui perfilman.

Film-film seluloid merupakan bagian bukti otentik perjalanan peradaban bangsa, yang dilahirkan anak bangsa untuk dapat diketahui generasi selanjutnya.

Kemudian Ia bercerita bahwa restorasi 4 judul film seluloid tersebut diperlukan kesabaran dan ketelatenan. Terutama dalam restorasi fisik untuk 177 ribu frame pada satu film, yang membutuhkan waktu rata-rata mencapai 180 hari.

Restorasi ini tidak mengubah karya film tersebut, namun hanya menyelamatkan bukti sejarah yang dibuat pada masa itu melalui suatu film dengan masih menggunakan seluloid. 

Perubahan hanya terpotongnya adegan jika restorasi fisik tidak dapat dilakukan akibat seluloid yang mengalami kerusakan parah," ucap Rizka.

Tanggapan positif juga diungkapkan oleh Hery Sasongko, Ketua Prodi Film dan Televisi ISI Padangpanjang. Sosialisasi ini sangat penting sebagai ajang pembelajaran bagi mahasiswa dan dosen bahwa pelestarian karya film sama pentingnya dengan produksi film itu sendiri.

Baca Juga : 
"Melalui sosialisasi ini kami banyak belajar dari mulai tujuan restorasi, proses pemilihan judul film yang akan direstorasi, proses restorasinya dan pemanfaatan hasilnya untuk kecerdasan anak bangsa guna memahami perjalanan sejarah bangsanya."

Penyelamatan karya-karya penting yang memiliki nilai sejarah dan budaya ini sekiranya perlu untuk terus dilakukan dan kemudian disosialisasikan. Sehingga pekerjaan besar ini kemudian dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. (DAR)

0 Response to "Sosialisasi Warisan Budaya Lewat Film “Kereta Api Terakhir” Hasil Restorasi"

Post a Comment

Gimana Artikelnya Gan? Tulis komentar di bawah ini ya !

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 mgid

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel mgid