Renungan: Memilih Populer di Bumi atau di Langit?

Daftar Isi [Tampil]

renungan rubrik pena

Rubrikpena.com
- Bagi yang mengharapkan popularitas, di era sekarang mungkin bukan hal mustahil karena semua orang punya kesempatan itu. Banyak kok yang kemudian orang tiba-tiba viral di sosial media kemudian muncul di berbagai TV karena karyanya. 

Namun, tidak sedikit juga orang yang melakukan hal-hal unik, nyeleneh dan konyol kemudian populer. 

Jika popularitas adalah satu pilihan, maka perlu kemudian menentukan popularitas itu dalam hal apa dan pada bagian yang mana. Sehingga popularitas itu kemudian akan memberikan nilai positif berupa inspirasi dan motivasi bagi orang lain.

Baca Juga: Jangan Putus Asa! Rahmat Allah itu Begitu Luas

Jangan kemudian popularitas itu mengantarkan diri kita para perilaku riya dan malah menghapuskan segala amal kebaikan yang kita lakukan dengan susah payah. 

Tapi, sebenarnya ada satu hal yang kemudian harus menjadi bahan renungan, ketika tengah menggebunya keinginan untuk bisa terkenal di masyarakat secara luas. 

Adakah setitik saja keinginan kita untuk kemudian nama kita dikenal oleh para penduduk langit?

Atau jangan-jangan perjalanan untuk mendapatkan popularitas di langit itu kandas karena hanya sebatas pada mengharapkan applause dari orang lain untuk kepopuleran di dunia.

Yakni, hanya pada sebatas dikenal oleh orang lain bahwa Ia orang yang rajin ibadah, rajin sedekah, rajin mengaji dan rajin dalam konteks positif lainnya, namun semua tidak sampai kepada esensi ibadah kepada-Nya.

Tentu rangkaian kalimat-kalimat ini bukanlah sebuah larangan untuk kemudian dikenal di bumi sebagai orang baik, sebagai ahli ibadah, sebagai orang alim, atau sebagai orang yang menginspirasi. 

Namun, tentu ada hal-hal yang kemudian harus menjadi bahan pertimbangan dan batasannya. Sehingga kita tidak lalai pada persoalan ibadah yang susah payah kita kerjakan untuk bekal di kehidupan yang sebenarnya. 

Satu hal yang mungkin perlu dipelajari oleh setiap muslim adalah ikhlas. Sehingga ketika ikhlas itu sudah melekat pada diri seseorang, tidak akan ada lagi politisasi ibadah untuk dijadikan sebagai bagian dari mencari popularitas di dunia.

Melainkan semua perbuatan ibadah yang dilakukan hanya berharap akan mendapat balasan dari-Nya, dengan ini akan membersihkan perasaan pamrih dari sesama makhluk.

Berikut adalah peringatan Allah bagi kita mengenai sebuah amalan, yang kemudian darinya kita menyakiti orang lain atau mengharapkan popularitas dari amal yang telah dikerjakan.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Maka keadaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah/berdebu). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” [Q.S. AL-Baqarah (2) : 264]

Amat luar biasa analogi yang dijelaskan dalam ayat ini, sekaligus sebagai jawaban atas perilaku ibadah yang jika kita hanya sebatas di bilang “wah” oleh orang lain. 

Maka ketika kita mengahrapkan pujian dari amalan ibadah itu, hanya sampai pada pujian itu lah amalan yang kita kerajaan. Tidak sampai kepada tahapan untuk kemudian kita dikenal di langit. 

Baca Juga: Wow! Inilah Rumus Cepat Mendapatkan Rezeki

Lain halnya jika menjadikan amalan privasi yang hanya mengharapkan balasan dari Allah. Tentu ini akan menjadi tabungan amal untuk bekal di kehidupan akhirat sekaligus ekspresi dari ketaatan dan kesyukuran atas segala nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Maka, apa tidak sebaiknya sedekah yang dikerjakan, shalat tahajud di sepertiga malam, puasa sunah yang dikerjakan dan amalan shalih lain itu menjadi cara untuk mengetuk pintu langit, sekaligus kemudian mengenalkan diri kita kepada Allah dan penduduk langit?

Tidak lagi menjadikannya bahan untuk konten update status di media sosial. Hingga akhirnya, terjerumus pada perasaan riya dan menyebabkan hilanglah kesempatan untuk mendapatkan bekal amal di kehidupan yang sebenarnya. Jika bisa merahasiakannya kenapa kita harus memamerkannya. 

Baca Juga:

Terkenal lah di bumi karena kontribusi positif. Ketuklah pintu langit dengan sujud dan do’a, kemudian kenalkan diri di langit dengan amalan yang selalu dibarengi dengan keikhlasan untuk kehidupan akhirat.

0 Response to " Renungan: Memilih Populer di Bumi atau di Langit?"

Post a Comment

Gimana Artikelnya Gan? Tulis komentar di bawah ini ya !

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 mgid

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel mgid